Kakek Berusia 10 Tahun

8 Sep

Dikisahkan, di bawah sebuah pohon yang rindang, tampak sekelompok anak-anak sedang menyimak pelajaran yang diberi oleh seorang guru. Uniknya diantara anak-anak itu terlihat seorang kakek duduk bersama mereka, ikut menyimak pelajaran yang diberikan 0leh sang guru. Kejadian aneh tersebut ternyata menarik perhatian seorang pemuda yang kebetulan melewati tempat tersebut. Seusai pelajaran, pemuda yang penasaran tadi menghampiri sang kakek.

Bertanyalah dia pada si kakek: ” Kek, apakah kakek seorang guru?”

“Bukan..,”jawab si kakek.

“Kalau bukan guru, mengapa kakek ikut duduk bersana anak-anak tadi? ” Si pemuda penasaran.

“Apa salahnya duduk dengan anak-anak itu? Ketahuilah, aku tadi sedang belajar bersama dengan anak-anak itu.”

“Lho, pelajaran tadi kian untuk anak-anak. Bukan orang tua seperti kakek. Memangnya berapa umur kakek, kok tidak malu belajar bersama anak-anak itu?”

“Umurku tahun ini tepat sepuluh tahun…” jawab si kakek sambil tersenyum.

“Ah…, kakek bercanda! Kalau menurut perkiraanku, paling umur kakek sudah 70-an tahun..” Si pemuda menebak sambil penasaran.

“Hahahaha… Tebakanmu benar anak  muda. Bila dihitung dari saat aku lahir hingga saat ini, umurku memang 70 tahun. Tetapi, 60 tahun yang telah kulewati janganlah dihitung. Yang benar-benar dapat dihitung adalah kehidupanku yang sepuluh tahun terakhir ini,” Jawab si kakek penuh misteri.

Si pemuda pun semakin bingung oleh penjelasan kakek tua tadi. ” Mengapa masa 60 tahun itu tidak dihitung? Apa artinya?”

Sambil menghela napas panjang si kakek menjawab, ” Sejak kecil sampai berusia 20 tahun, seharusnya itulah waktu yang terbaiki untuk belajar. Tapi aku gunakan untuk bermain dan bersantai. Sebab, semua keinginan dan kiebutuhanku disediakan berlimpah oleh orang tuaku. Lalu 20 tahun berikutnya, waktu yang disediakan untuk berjuang dan meniti karir, malah aku gunakan untuk berfoya-foya dan menghabiskan harta orang tuaku. Dan 20 tahun ketiga, waktu yang seharusnya untuk mengumpulkan tabungan masa pensiunku, malah aku gunakan untuk bertamasya tak karuan tujuannya. Semua harta yang tersisa aku hambur-hamburkan karena aku hanya memikirkan kesenangan sesaat. Coba pikir, bukankah 60 tahun yang telah kulewati itu sia-sia belaka?”

“Bagaimana dengan sepuluh tahun terakhir?”

Dengan mata berkaca-kaca si kakek berkata, Sepuluh tahun ini aku baru sadar, bahwa 60 tahun hidupku kulalui tanpa makna, tanpa tujuan, dan tanpa cita-cita…Aku sudah bangkrut, jatuh miskin, sebatang kara, tidak punya teman yang bisa membantu, dan hanya hidup dari belas kasihan orang lain. Tapi sejak kesadaran itu muncul, aku merasa seperti baru lahir kembali dan memutuskan untuk belajar hidup dari awal lagi.”

Setelah berhenti sejenak, si kakek meneruskan kata-katanya. “Anak muda…Jangan meniru kehidupan seperti yang telah aku jalani. Karena, waktu adalah modal utama yang dimiliki setiap manusia. Gunakanlah waktu yang diberikan untuk kegiatan yang berguna, maka kelak hari tuamu kau akan merasa bahagia. Karena kehidupanmu bukan hanya berguna bagi dirimu sendiri, tetapi juga harus berarti untuk orang lain.”

PS:

Tak salah ungkapan Time Is Money atau yang lebih bernilai adalah Time Is Life…

Kisah tadi menyadarkan aku, sebelum terlambat dan mengutuk diri sendiri hal yang harus kulakukan adalah berubah menjadi yang lebih baik……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: