Sabun

25 Okt

Hari ini bakal respon tentang pembuatan sabun atau reaksi saponifikasi.
Sekilas tentang sabun.

Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Surfaktan sendiri berasal dari kata surface actif agents yaitu senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan mengandung suatu ujung hidrofobik dan suatu ujung hidrofilik. Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hydrogen pada permukaan dengan cara meletakkan bagian kepala hidrofiliknya pada permukaan air dan bagian ekor hidrofobiknya menjauhi permukaan air. Kegunaan sabun adalah kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan cara pembilasan karena sabun merupakan molekul organic yang terdiri dari 2 kelompok gugus. Gugus pertama dinamakan liofil (atau hidrofil bila medium pendispersinya air) yang mempunyai arti “suka akan pelarut” dan gugus kedua dinamakan liofolik (atau hidrofobik bila medium pendispersinya adalah air) yang berarti “tidak menyukai pelarut”. Pada sabun, gugus hidrofilik memiliki afinitas yang sangat kuat terhadap medium air, sedangkan gugus hidrofobik bergabung dengan gugus hidrofobik dari molekul sabun lain membentuk agregat yang dinamakan misel. Pada proses pembuatan sabun digunakan Sodium lauryl sulfat sebagai surfaktan yang ditambahkan ke dalam air demin sambil dipanaskan, hal ini dilakukan karena surfaktan mudah larut dalam air panas dibandingkan dengan air dingin sehingga dengan adanya pemanasan maka akan meningkatkan kelarutan (mudah larut). Selain menggunakan sodium lauryl sulfat (SLS) dapat pula digunakan senyawa-senyawa lain sebagai surfaktan, diantaranya adalah sodium lauryl ether sulfat (SLES), sodium dodecyl sulfat dan ammonium lauryl sulfat. Selain surfaktan, pada proses pembuatan sabun ditambahkan pula bahan-bahan pendukung yang antara lain adalah CAB-30 dan glycerin yang berfungsi sebagai pelembut karena sabun yang dihasilkan adalah sabun tangan cair sehingga harus lembut di tangan dan dapat mengangkat kelembaban pada lapisan kulit. Selain itu digunakan pula pewarna yang dapat memikat daya tarik konsumen, pewarna yang digunakan adalah pewarna yang aman untuk kesehatan kulit, contohnya adalah pewarna makanan. Sebagai pengompleksnya adalah Na-EDTA (garam dari EDTA) karena garam dari EDTA lebih mudah larut dalam air daripada EDTA. pH sabun harus diatur karena pH sabun adalah 7 (netral). Jika pada pembuatan sabun tersebut berada dalam suasana basa maka harus dibuat netral dengan cara menambahkan suatu larutan basa ke dalam campuran tersebut. Sebagai larutan basa dapat digunakan larutan NaOH sedangkan jika suasananya asam maka harus dinetralkan dengan cara menambahkan suatu larutan asam ke dalam campuran tersebut, salah satu contohnya adalah larutan asam sitrat. Untuk mengetahui suasana (asam/basa/netral) dari campuran tersebut maka dapat digunakan kertas pH.

Membuat sabun sendiri
Untuk pembuatan sabun natural dengan memakai resep sederhana :

Bahan
142 gr minyak kelapa
142 gr minyak sawit
452 gr minyak zaitun
102 gr NaOH
240 gr air
20 gr pewangi

Teknik pembuatannya :

1. Campur NaOH dengan air, caranya adalah memasukkan NaOH ke dalam air, bukan sebaliknya. Teknik ini tolong diperhatikan.
2. Diamkan larutan alkali menjadi hangat dengan suhu sekitar 45 derajat celcius (dari panas awal sekitar 90 derajat celcius).
3. Ketika larutan alkali mencapai suhu 45 derajat celcius, panaskan minyak sebentar dan jaga agar suhu minyak dan larutan NaOH sama yaitu 45 derajat celcius. Panci yang digunakan harus stainles steel, bukan alumunium atau seng, karena alumunium mudah korosif jika terkena larutan alkali.
4. Masukkan larutan alkali ke dalam minyak, aduk sampai rata dan berubah mengental. Jika mengaduk secara manual bisa memakan waktu, biasanya saya memakai stik blender, sehingga dalam waktu kurang dari 30 detik sabun sudah mulai mengental.
5. Pada saat sabun sudah mulai mengental, saatnya untuk memberi pewangi, pewarna atau ekstrak tanaman / herbal.
6. Setelah tercampur rata, tuang adonan sabun ke dalam cetakan yang telah dialasi plastik atau kertas lilin. Untuk cetakan sabun, silakan berkreasi sendiri dengan memanfaatkan barang yang ada, misalnya kotak bekas bungkus sepatu, laci meja kecil atau bekas bungkus Pringels (bener nggak sih nulisnya…. keripik kentang itu lho…yang penting dialasi plastik atau kertas lilin agar sabun tidak lengket di cetakan)
7. Tutup bagian atas dengan plastik, tutup permukaannya dengan kain yang tebal.
8. Diamkan selama 24 jam agar proses saponifikasi /proses menjadi sabun benar2 komplit.
9. Keluarkan sabun dari cetakan dan potong2 sesuai selera.
10. Keringkan sabun di tempat yang cukup ventilasi selama 4 – 6 minggu, setelah itu sabun siap dipakai.

Met Mencoba….

Satu Tanggapan to “Sabun”

  1. agung Oktober 14, 2011 at 11:50 pm #

    aku dah coba cara diatas dgn resep yg baik..pada percobaan kedua kenapa tidak bs mengental..apa karena larutan alkalinya terlalu dingin paakah suhu 45 uh berpengaruh pada kekentalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: